Ternyata ini sebabnya jet tempur IFX terus terkatung-katung

Poker Online - Pembuatan pesawat tempur KFX/IFX, yang merupakan kerja sama antara Indonesia-Korea Selatan saat ini tertunda. Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia AM Fachir menyebutkan, penundaan terjadi karena masalah lisensi yang belum didapat.
"Ada beberapa penundaan terkait ini, terutama soal lisensi dari Amerika Serikat," ujar Fachir saat ditemui usai melakukan pertemuan Dialog Strategis Kerja Sama Tingkat Tinggi di Kemlu, Senin (6/2).
Namun, untuk meminta lisensi Indonesia dipastikan tidak bekerja sendirian. Fachir menyebutkan Indonesia akan terus menggandeng Korea Selatan untuk mendesak AS mengeluarkan lisensi pembuatan pesawat tempur ini.
Lisensi ini dikeluarkan AS karena direncanakan KFX/IFX akan memakai empat komponen utama teknologi jet tempur yang dimiliki Negeri Adidaya tersebut. Komponen itu, seperti electronically scanned array (AESA) radar, infrared search and track (IRST), electronic optics targeting pod (EOTGP) and Radio Frequency jammer.
Sementara itu, alasan penolakan pemerintah Negeri Paman Sam dikarenakan masalah keamanan nasional yang terkait dengan teknologi sensitif. Sebenarnya, Indonesia sudah pernah meminta lisensi dari AS, namun sayangnya tetap ditolak.
"Sebenarnya bukan penundaan, tapi kita minta sebagai negara yang memiliki lisensi, dia harus memberikan izin. Tahun kemarin, delegasi Kementerian Pertahanan sudah ke AS, namun ada bagusnya kita bersama-sama meminta lisensi untuk keberlangsungan proyek ini," pungkasnya.
KFX/IFX merupakan proyek jangka panjang Indonesia dan Korsel. Total investasi kedua negara mencapai USD 8 miliar. Proyek ini akan melibatkan APBN masing-masing negara.Pokervqq
Dalam kerja sama ini, pemerintah Korea menanggung 60 persen biaya pengembangan pesawat, sisanya ditanggung KAI (perusahaan pembuat pesawat Korea) 20 persen, sementara pemerintah Indonesia hanya 20 persen. Dari kontribusi ini, Indonesia akan mendapatkan 50 pesawat yang mempunyai kemampuan tempur melebihi F-16, sementara 150 pesawat untuk Korea Selatan.
No comments:
Post a Comment